Pertanyaan mengenai diri sendiri merupakan sebuah pertanyaan menggelitik, karena dari situlah filsuf-filsuf besar seperti Plato, Sokrates, Hume, bahkan seorang Nietzche memulai perjalanan filosofisnya. Lalu, siapa aku ? Satu-satunya hal yang paling saya ketahui dari diri saya adalah saya tidak tahu apa-apa. Oleh karena itu, hakikat saya di dunia ini sebenarnya merupakan sebuah perjalanan panjang untuk mempertanyakan, meragukan, dan mengagumi segala sesuatu, Omnibus dubitandum. Berangkat dari ketidaktahuan dan keingintahuan saya, saya mencoba mendeskripsikan bagaimana dan apa saya itu. Kalau boleh saya gambarkan, saya kurang-lebihnya dapat dianalogikan seperti Joker. Anda tahu kartu Joker ? Personifikasi dari kartu itu adalah sosok badut mungil dengan banyak lonceng tergantung pada sekujur tubuhnya. Selain itu, stereotype yang melekat pada tubuh mungil joker adalah sosoknya yang selalu melompat, tersenyum pada kartu-kartu yang lain, dan membunyikan lonceng-lonceng yang ada pada tubuhnya. Joker, oleh Jostein Gaarder dalam “Misteri Soliter” digambarkan sebagai sosok yang selalu mengganggu ketenangan kartu-kartu lain dengan mengajukan berbagai pertanyaan mengenai kehidupan ini. Itulah saya (kurang lebihnya). Saya adalah joker, kartu yang berbeda dari kartu lainnya. Saya terkadang mengganggu orang lain dengan mempertanyakan dan berusaha mencari tahu apa itu kehidupan. Saya bukanlah (setidaknya sampai sekarang) seorang yang terjebak dalam Labirin Knossos, tersesat dan hanya dapat kembali jika ia menemukan benang Ariadne. Justru sebaliknya, saya terkadang berupaya mendekonstruksi substansi dogmatis-fundamentalis yang membuatnya nyaman terus-menerus ada di dalam gua Plato tanpa mau tahu dengan dunia luar.
Sekali lagi saya tekankan jika saya adalah makhluk yang tidak tahu apa-apa. Tetapi, upaya joker itu bukan ditujukan untuk menggurui, apalagi berlaku seperti kaum sophis. Joker hanya ingin menggali virtue lebih dalam, karena ia philosopia. Saya pun tidak menyangkal jika suatu ketika Anda mendapati saya terbuai oleh bayangan saya sendiri yang terpantul pada dinding gua Plato. Lucem aspicere vix possum, kata Cicero. Toh, pada suatu saat saya akan kembali tersadarkan untuk tidak terbelenggu di dalam gua. Lalu quo vadis Wijen ? Saya pasti tetap melangkah untuk mencari fragmen-fragmen virtue yang masih terserak di sepanjang hidup ini karena saya pada dasarnya tidak setuju dengan ungkapan “hidup hanya sekedar mampir untuk minum kopi”. Rasa-rasanya ungkapan itu malah hanya akan menjadi sedative pap saja. Sebaliknya, saya bukan hanya sekadar mampir, minum, dan pergi tetapi saya akan melihat sekeliling, bertanya dan terkagum akan setiap proses yang saya lalui, mulai dari langkah pertama saya menuju warung kopi hingga langkah terakhir saya ketika meninggalkan warung kopi. Memang benar hidup ini singkat, vita brevis !, tetapi bukan berarti hanya mampir tanpa memaknai esensi dari minum kopi itu sendiri. Konsekuensi logisnya adalah saya menjalani kehidupan ini bukan hanya untuk lahir sampai post mortem tanpa tergelitik dengan subjek-subjek independen yang lain. Ironisnya, sikap saya itu malah bertendensi menimbulkan sejuta tanya dan pro-kontra dari orang lain. Akhirnya, beragam stigma subjektif melekat pada pada saya. Keingintahuan seorang joker dipersepsikan sebagai sebuah disposisi manusia-termasuk disposisi mental dan religiusitas- yang mencakup banyak aspek kehidupan. Hal ini jugalah yang menyebabkan terjadi diskrepansi dan disparitas antara paradigma saya dengan paradigma orang lain –yang cenderung fanatis-ekstrimis dan sangat dogmatis.
Kesimpulannya, saya adalah substansi material yang independen dari subjek lain di sekitarnya di mana ketidaktahuan adalah satu-satunya yang ia tahu. Kondisi ini menjadikannya Joker yang berbeda dari kartu lain dan dianggap tidak lazim oleh sebagian kartu-kartu itu. Saya harap tulisan saya di atas dapat merepresentasikan siapa dan apa saya. Jika terdapat kesalahan, baik kesalahan linguistik, historis, atau kesalahan persepsi akibat ketidaktahuan saya, saya meminta maaf dan dengan rendah hati mengharapkan kritik yang membangun. Sapere Aude !
Tentunya seorang manusia…Yang terlahir suci bersih dari seorang Ibu yang mulia. Aku terlahir dalam tangisan, namun disambut senyuman….Mengapa? Berkelana dalam hidup tanpa arah dan tujuan. Tak mengerti kebaikan ataupun dosa! Hanya menjalani hidup seperti umumnya manusia. Bersusah payah mencari nafkah, untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup jasmaniah. Makan, tidur, bekerja, dan bermain demikian yang aku jalani.
Namun hari ini, telah menemukan Jalan Kesadaran untuk hidup yang lebih bermakna. Bahwa hidup ini bukan untuk makan, tapi makan untuk hidup agar bisa berguna bagi kehidupan ini dan juga orang lain.
Bahwa hidup yang paling utama adalah harus menemukan aku yang sejati terlebih dahulu. Barulah kemudian dapat mengerti mengapa aku terlahir ke dunia ini. Karena selama ini aku telah kehilangan dan melupakannya.
Bahwa nilai kehidupan itu bukan karena bisa berumur panjang dan hidup sampai tua. Mengapa? Apa gunanya berumur panjang, namun hidup penuh kesia-siaan? Nilai kehidupan berarti apabila aku dapat menanam kebaikan dan bermakna bagi kehidupan orang lain dan kehidupan itu sendiri.
Bahwa hidup di dunia ini adalah bagaikan bersekolah, tingkatan demi tingkatan harus dilalui. Belajar dan belajar. Kemudian juga harus mengikuti ujian. Semua terus berlanjut sampai akhirnya hari penentuan. Apakah aku lulus atau tidak? Tentunya semua tergantung nilai-nilai hidup yang aku dapatkan.
Bahwa kini…aku hanya manusia biasa yang terus mengikuti pelajaran dan mengejar nilai-nilai untuk pertimbangan kenaikan kelas berikutnya.
Bahwa kini dalam diriku masih begitu banyak kekurangan, harus terus memperbaiki diri, dengan terus berintrospeksi diri dan merenungi demi kecermerlangan nurani yang telah terkotorkan oleh keduniawian hidupku.
Bahwa aku selalu berharap, para sahabat untuk mengerti dan terus memotivasi agar aku lebih percaya diri lagi dalam menatap hari-hari.
Dan yang perlu dicatat adalah,bahwa apa yang tertulis ini adalah bukan untuk mengurui atau menyadarkan siapa-siapa. Semuanya adalah untuk menyadarkan diri sendiri. Karena kata-kata ” kamu” yang ada ini, maksudnya adalah ” aku” _si robi jaya putra_harap jangan salah mengerti.
Dan lebih dari itu, siapa tahu…ada sahabat yang mengalami seperti aku, sehinga kita bisa saling untuk menyadarkan dan menyatu dalam jalan kehidupan ini.
Siapa aku????
Siapa aku????
Kalo ada yang bertanya siapakah aku sebenernya? Aku sendiri masih gak tau pasti.. kalo ada orang bilang, aku hanyalah seorang insan manusia yang juga mencoba tuk raih ridhoMu.. itu aku.. weitszzzzz…. sok bijak bangget yaks?? Tapi emang bener ko’.. stelah kurang lebih 20 tahun berlalu.. aku mengalami banyak hal.. buanyakkkkssss buangggeeeeeettttt….!!!!!!!!!! banyak hal yang menyenangkan, menggembirakan, menyedihkan, ato mungkin mengecewakan.. aku sendiri terkadang tidak tau pasti.. sebenernya siapa aku??
Temen.. emang bener ya kata orang yang bilang kalo kita baru ngerasain klo seseorang ato sesuatu ntu berarti setelah hal tersebut jauh ato hilang dari hadapan kita..
Sekarang aku sedang mengalami suatu kehilangan akan seseorang.. mungkin dia sudah tak lagi menganggapku berharga, namun yang pasti dia pernah menganggapku berharga.. weitszzz pede banget ya aku?? Ntu juga setelah mengalami pencerahan dari berbagai pihak… bego banget ya aku?? Yang baru menyadari semua yang begitu berarti setelah aku melakukan hal2 yang gak bertanggungjawab.. setelah ada orang lain yang menyadarkanku.. but live must go on right?? Aku gak boleh berdiam terus disini… it’s time to move.. tapi kadang aku bingung sendiri, kmana aku harus bergerak?? Padahal hampir di semua tempat aku selalu teringat akan dia.. tapi ko’ kaya’nya aku muna banget yah?? Ato malah mang bener2 muna banget?? Akhhhh……………… gak tau lah.. yang pastinya aku akan terus berusaha untuk tetap bergerak.. karena emang gakk ada gunanya aku tetep diam disini sedangkan sekeliling aku semakin lama semakin bergerak jauh meninggalkanku.. aku pasti bisa!!!
Temen.. terkadang sempat aku tersadar.. jika aku semakin beranjak dewasa yang artinya aku tidak boleh terus2an seperti ini.. tapi teman.. terkadang aku mencoba tuk melihat jauh kedepan.. jauh dari kehidupan dunia yang fana ini.. aku takut.. aku berserah padaNya.. aku sadar.. aku hanyalah sebagian kecil dari betapa besar seluruh bagian utuh yang diciptakanNya.. aku bahkan tak berani membayangkan apa yang akan ada didepanku 2 ato 3 hari lagi.. karena mungkin saja aku tak bisa memenuhi janjiku dihari itu.. ya ALLAH.. sungguh Engkau Maha Besar dan Maha Mengetahui..
Aku paling suka ma malam.. entah kenapa.. di malam hari aku bisa mengenangMu sepuasnya.. di malam hari aku berharap dapat terbangun kembali esok harinya.. di malam hari aku mengharap akan indah yang akan aku temui di esok harinya.. entahlah.. hanya Engkau Yang Maha Tau..
Aku hanya berharap akan indah yang bisa ku temui keesokan harinya.. namun terkadang aku menjadi seorang yang lupa.. jikalau dibawah sana masih banyak yang membutuhkan uluran tangan kita.. terkadang karena aku terlalu sering melihat keatas, hingga aku terlupa tuk melihat kembali kemana arah jalanku sesungguhnya dan ada apa hal dan sesuatu yang ada disepanjang jalanku..
Kalau semua yang terjadi bisa ku lagukan.. maka beribu-ribu lagu yang bisa ku cipta dalam waktu sekejap saja.. karena betapa banyaknya rasa dan kisah yang telah aku alami..
Ketika kita terus melangkah.. tak terasa berapa banyak kisah yang telah kita alami.. tak peduli berapa banyak cerita yang kita dengar.. baik tentang diri kita maupun orang lain..
Ketika itu tiba.. entah berapa banyak senyum, peluh dan air mata yang telah tertumpah.. kita tak bisa mengungkap semua itu.. terlalu banyak kata yang ingin kita lukiskan.. hanya satu kata.. it’s amazing.. =D
Ketika semuanya tak lagi bisa dimengerti dengan akal sehat kita.. hanya ada satu kata subhanallah.. semoga DIA tunjukkan yang terbaik bagi kita semua.. amien..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar